Kebutuhan Jagung Pakan Tahun ini Mencapai 8,5 juta ton

kebutuhan jagung pakan tahun ini mencapai 8,5 juta ton

Produsen pakan telah menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding, MoU) penyerapan jagung dengan provinsi produsen emas pipilan itu. Meskipun Kemen tan mencanangkan 19 provinsi pengembangan jagung, Askam menjabarkan, nyatanya baru tiga provinsi yang sudah melakukan kontrak penyerapan dengan GPMT. Tiga provinsi itu Lampung, Banten, dan Jawa Barat. “Dari Lampung sudah ada penandatanganan, jumlahnya sekitar 11.000 ha. Di Serang, Banten secara teori ada 5.000 ha tapi yang tersedia 3.000 ha. Sedangkan dengan Jawa Barat akan dibuat konsep MoU antara pabrik pakan dengan (pemilik) lahan yang tersedia dalam waktu dekat,” jelasnya.

Ia menambahkan, GPMT tidak suka impor kalau jagung lokal tersedia. “Namun jika tidak tersedia, kami tambah lagi feed wheat-nya. Feed wheat itu hanya sebagai pengganti,” tegas Askam. Sementara Winarno Tohir, Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) dengan gamblang menyebut, permasalahan jagung tidak pernah selesai. Contoh sederhana, petani kesulitan menjual hasil panen. “Masalahnya, jagung untuk mencapai kadar air 15% itu butuh pengering. Tetapi anggaran Dirjen Tanaman Pangan (Kementan) belum pernah ada yang menyinggung pengering. Untuk mencapai kadar air 15% mutlak membutuhkan pengering. Walaupun musim panas, tidak bisa mengandalkan dari matahari saja. Jangan sampai terkena aflatoksin dulu baru dikeringkan,” tandasnya.

Genjot Produksi

Bambang Sugiharto, Kasubdit Jagung (kini Pj. Direktur Perbenihan Tanaman Pangan), Ditjen Tanaman Pangan, Kementan mengatakan, nilai pendanaan program peningkatan produksi jagung hanya Rp76 miliar/ tahun. Bahkan, pada 2015 anggaran awal hanya untuk bantuan subsidi benih seluas 100 ribu ha. Mengevaluasi kondisi tersebut, Kementan melakukan penambahan anggaran untuk 1 juta ha lahan tahun itu. Anggaran kembali ditingkatkan pada 2016 menjadi 1,2 juta ha ditambah lahan khusus sebanyak 724 ribu ha. “Terjadi lonjakan program yang sedemikian hebat karena jagung merupakan komoditas yang mudah ditanam di Indonesia dan teknologinya sederhana. Jadi, jangan sampai impor,” ungkap Bambang.

Tahun ini Kementan mengalokasi bantuan untuk 3 juta ha lahan jagung berupa 45 ribu ton benih dan pupuk. Program ini juga dilengkapi bantuan alat pascapanen, seperti corn harvester (pemanen jagung otomatis). Menurut Bambang, alat pascapanen diarahkan untuk daerah yang sudah maju. Dewan Per wakilan Rakyat sudah mengesahkan anggaran sebesar Rp3,5 triliun untuk pengembangan jagung pada 2017. “Ini agar menjamin tahun 2017 bisa mencapai swasembada,” pungkasnya.