Categories
Blogging

Jangan Biarkan Wereng dan Gulma Bikin Puyeng

Awal Januari 2017, Bonjok Istiaji, Dosen Fa kultas Pertanian IPB yang juga koordinator Klinik Pertanian Nusantara, menerjunkan ma hasiswa proteksi tanaman IPB ke 18 provinsi, 62 kabupaten/kota di 206 titik. Niatnya, hanya mencatat kejadian penyakit baru pada padi. “Tapi te muan sam pingnya justru wereng cokelat mendu duki peringkat pertama hama yang dikeluhkan,” pa par akademisi jebolan IPB itu. Sampai akhir Juli 2017, ia mencatat serangan wereng dan atau virus kerdil terjadi setidaknya di 30 kabupaten sentra padi.

Penyebab

endapat hasil pengamatan lapang di luar dugaan tersebut, beberapa waktu lalu Bonjok pun mendiskusikan temuannya dengan pihak terkait di IPB. Kesimpulannya, menurut akademisi IPB itu, karena ada interaksi dari tiga faktor. Pertama, iklim yang cukup basah pada 2017 atau kemarau basah. “Tidak menyangka bakal mewabah karena BMKG menyatakan 2017 tahun kering,” jelasnya. Faktor kedua, adanya penanaman padi terus me nerus tanpa jeda.

Agus Suryanto, Senior Crop Mana ger PT Bina Guna Kimia menyuarakan hal yang sama. Menurutnya, salah satu efek negatif tanam padi sistem IP300 (tiga kali setahun) adalah tersedianya sum ber makanan bagi wereng secara berkelanjutan. Tanah juga menjadi “lelah” karena tidak ada kesempatan untuk istirahat.

Faktor terakhir, menurut Bonjok, adalah penggunaan insektisida dengan intensitas yang tinggi, 8- 12 aplikasi per musim dan beberapa insektisida terlarang untuk padi. “Ekosistem jadi rentan dan tidak tahan dari gangguan luar,” lanjutnya. Hasil temuan itu selaras dengan pernyataan Joko Suwondo, Chairman of Indonesia CropCare Associa tion. Menurutnya, produksi padi pada 2017 tidak lebih baik dari 2016, kemungkinan ada kenaikan se rangan hama dan penyakit.

“Menurut keterangan anggota, penjualan insektisida terhadap wereng me ningkat,” ujar Joko saat diwawancarai AGRINA di kan tornya (19/1). Bahkan, anggota CropCare juga turun langsung ke lapangan membantu Ditjen Tanaman Pangan, Ke mentan, mengendalikan wereng.

Tangani Secara Alami

Bonjok berpendapat, pola tanam padi-padi-padi dalam setahun ma sih bisa dilakukan karena nyatanya, masih ada dan terbukti berhasil di la pangan. Namun, sarjana pertani an IPB dari departemen proteksi ta naman ini mensyaratkan, ketahan an ekologis terjaga.

“Supaya produksi tetap tinggi, yang paling penting adalah pe ningkatan kapasitas petani sebagai subyek pertani an. Petani harus menjadi ahli di lahannya sendiri,” tandasnya. Berkaitan dengan merebaknya virus kerdil di pertanaman padi pantai utara Jawa, Husnain, Kepala Balittanah yang juga koordinator Program Pajale Indramayu, membagikan tips yang ia dapat dari ahli hama penyakit Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi). Jika serangan virus sudah berat, petani bisa melakukan eradikasi dengan cara pengolahan tanah singkal.

Kemudian, persemaian dibuat pada lahan yang sudah bersih dari inokulum. Lalu, petani disarankan memasang lampu pe rang kap untuk memantau populasi wereng batang cokelat (WBC). Apabila populasi tinggi, semai di lakukan dua minggu setelah populasi menurun. Ja ngan lupa lakukan juga pemantauan pada persemaian. Jika terdapat wereng makroptera (bersa yap), segera kendalikan.

Namun jika di bibit padi ter lihat gejala virus kerdil, jangan ditanam, cepat benamkan. Sementara itu, Budi Widodo, Technical & Mar keting Manager PT Agricon Indonesia menjelaskan, “Jika memang masih ingin tanam dengan sistem IP300, petani harus menggunakan varietas tahan we reng.” Varietas padi tahan wereng antara lain Inpari 19, Inpari 31, dan Inpari 33.

Namun umumnya beras dari padi varietas tahan wereng tidak enak sehingga penanaman diselang-seling dengan yang enak pada musim tanam berikut. Uut, sapaan akrab Husnain, lebih jauh menjelaskan, tanam padi baiknya dilakukan serempak dengan luasan minimal 50 ha. Awasi pula populasi WBC dan gejala virus kerdil pada pertanaman padi secara ketat.

“Jika dalam petakan sawah terdapat spot gejala virus kerdil pada rumpun padi, segera cabut dan be namkan atau eradikasi selektif,” paparnya.

Pengendalian Wereng Secara Kimiawi

Jika langkah pengendalian secara alami belum manjur, petani bisa melengkapinya dengan pengendalian secara kimiawi. Perusahaan pestisida mena warkan solusi berbeda dalam menanggulanginya. Berikut beberapa pilihan mengatasi serangan hama ala perusahaan pestisida.

Yang pertama, pengendalian ala FMC. Agus me nyarankan aplikasi Marshal 5 GR, insektisida berbahan aktif karbosulfan sejak persemaian dengan dosis 4 kg/ha. “Aplikasinya bersamaan dengan pemupuk an,” terang Agus. Kemudian saat pindah tanam, apli kasi 10 kg/ha berbarengan dengan pemupukan pertama atau ketika tanaman berumur 15 hari setelah tanam (HST).

Jika masih ada serangan pada umur 30 HST, aplikasikan 10 kg/ha pada pemupukan kedua. Pilihan kedua ala perusahaan yang baru merger ta hun lalu, Dow Dupont. Di daerah yang endemik virus kerdil, aplikasikan DuPont™ Pexalon™ 106 SC pada umur 10-20 HST. Dosis rekomendasi insektisida ber bahan aktif triflumezopyrim ini 240 ml/ha dengan volume semprot 300 liter/ha atau 20 tangki. Sedang kan di daerah yang tidak ada virus kerdil, aplikasikan ketika populasi wereng mencapai 5-10 ekor per rum pun.

Biasanya umur 25-40 HST. “Kalau sudah terse rang virus solusinya hanya satu, cabut dan benam kan,” kata Bayu Nugroho, Rice Crop Leader Indonesia & Brand Manager of Pexalon Dow Dupont. Tak ketinggalan pula cara mengatasi wereng dari Agricon. “Untuk mengendalikan serangan wereng, kita pakai Tenchu, insektisida berbahan aktif dinotefuron 20%,” ujar Budi.

Pengaplikasiannya dengan ca ra melarutkan 25 g dalam satu tangki air berisi 14 liter untuk luasan 400 m2 . Penyemprotan sekitar 10- 15 cm di atas permukaan tanah.

Tangani Gulma

Di samping serangan wereng dan virus, gulma juga masih jadi ancaman produksi. Gulma merupakan tumbuhan pengganggu yang tumbuh liar di antara ta naman padi. Jenis dan macamnya sangat bera gam. Bahkan, beberapa spesies tertentu tumbuh dominan dan berkompetisi dengan padi dalam mendapatkan cahaya, air, dan hara sehingga petani perlu tahu cara mengatasi gulma. Haryanto Harry, Product Manager PT Nufarm Indo nesia mengatakan, kehadiran gulma sangat merugi kan petani.

“Kerugian akibat kompetisi dengan gulma bisa mencapai 20%-50%,” terangnya. Menurut BB Padi menganjurkan pengendalian gulma secara manual sebaiknya dilakukan dari awal. Penyiangan pertama dilakukan 10-15 hari setelah tumbuh atau menjelang pemupukan pertama. Sedangkan penyiangan kedua saat tanaman berumur 30-45 hari setelah tumbuh atau menjelang pemupukan urea susulan pertama.

Jika ingin menggunakan herbisida, Harry me nyarankan aplikasi Serendy 28 WP, produk berbahan aktif bispiribak sodium 18% dan pirazosulfuron 10%. “Herbisida ini bisa untuk sebelum dan setelah tumbuh.

Dapat mengendalikan gulma daun sempit, da un lebar, maupun tekian,” jelasnya. Aplikasikan 100- 150 g/ha pada padi umur 7-14 HST atau ketika gulma sudah memunculkan 2-3 helai daun. Bisa dila kukan dengan metode semprot atau tabur bersa ma pemupukan.

Dalam kondisi serangan wereng yang tinggi, gulma mesti dikendalikan agar tidak menjadi inang hama ini.