Industri Jagung Tetap Untung, Asal…

Meyakini agribisnis jagung terus prospektif, Dean Novel, Direktur Utama PT Dhanya Perbawa Pra – dhi kasa memberikan beberapa ulasan yang harus dicermati. Salah satunya, road map (peta jalan) swasembada jagung ha – rus jelas. “Dibikin road map-nya tahun ini ngapain, tahun depan ngapain. Jangan langsung rapat, tahun depan kita swa – sem bada. Mak, ngeri kali orang ini,” sin – dirnya sambil tertawa. Harga Rendah Tidak Terekspos Dean menjelaskan, harga jagung lokal ditentukan oleh pemerintah melalui harga pokok penjualan (HPP) sebesar Rp3.150/kg. Harga ini juga tidak terkait de ngan harga internasional. “Fluktuasi harga jagung dunia trennya naik meski – pun berfluktuasi. Harga jagung dunia yang tadinya turun cukup lama, trennya sudah naik,” jelasnya. Sementara di dalam negeri, harga emas pipilan itu sedang turun.

“Harga jagung di banyak daerah sentra produksi sejak awal Maret 2018 anjlok tajam. Di Dompu, Nusa Tenggara Barat itu harga pipilan basah sudah Rp1.900/kg, harga tongkolnya sudah Rp1.200/kg,” tandas Dean pada Seminar Nasional AGRINA Agribusiness Outlook 2018 di Jakarta, Kamis (15/3). Harga jagung per 12 Maret 2018 di ting – kat pengumpul antara lain, sekitar Rp1.400–Rp1.500/kg untuk jagung tongkol panen di pinggir jalan, jagung pipilan basah sebesar Rp1.950– Rp2.100/kg, jagung pipilan kering 17% sekitar Rp2.900–Rp3.150/kg, dan jagung pipilan kering 14% sebesar Rp3.300– Rp3.400/kg. Hingga berita ini diturunkan, menurut Dean, harga jagung masih stagnan di tingkat petani dan pengepul, alias belum ada kenaikan. “Kalaupun ada kenaikan, sangat kecil sekali,” lanjutnya menjawab pesan singkat AGRINA (3/4). Karena itu, pemerintah juga harus bertanggung jawab saat kondisi harga jagung kritis. “Jadi kalau bikin harga jual dasar, harus eksekusi.

Saat harga murah seperti sekarang, harus dieksekusi (dise – rap) seperti halnya beras. Kalau harga naik lompat, pemerintah repot dan bentuk macam-macam tim. Tapi sebaliknya, saat harga anjlok, mereka menghilang,” kritiknya pedas. Di lain pihak, harga pakan ternak meng – ikuti harga internasional. Dan kebutuhan jagung terus naik seiring peningkatan kebutuhan pakan ternak dan jumlah penduduk. “Konsumsi pakan masih akan bagus sampai 2020, Jadi, saya masih sangat optimis jagung lokal itu masih sangat prospektif,” serunya penuh semangat.

Road Map yang Jelas

Dean mempertanyakan kebenaran swa sembada jagung pada 2017 yang dicapai dalam waktu setahun. Sebab, pen canangan swasembada dilakukan pada November 2016. Namun, kondisi swasembada itu harus “dinodai” kehadir – an impor jagung tahun ini. “Awal 2018 impor 171.660 ton. Itu ‘kan harusnya ma – sih bisa diisi oleh panen musim hujan 2017. Kalau impor Maret, berarti panen di MH 2017 (penanaman pada musim hujan), seharusnya stoknya ada di sana,” ujarnya menyayangkan. Untuk mencapai swasembada jagung, sambung Dean, tentu harus memiliki road map yang jelas.

Ia menggambarkan, jika ingin menanam jagung 3 juta ha, perlu perencanaan secara matang terkait kebutuhan sarana produksi seperti benih, pupuk, dan pestisida. Dean mengkhawatirkan ketersediaan benih subsidi yang tidak mencukupi dan tidak berkualitas. Pasalnya, dia menduga, ada beberapa kejadian di NTB terkait peng adaan benih fiktif, yaitu, benih yang sama berputar dalam satu lingkup provinsi. “Benihnya mutar aja yang penting ke – lompok tani tanda tangan. Begitu expired (kadaluarsa), baru berhenti mutarnya,” be – bernya. Selain itu, benih subsidi yang di – terima petani ada yang tidak tumbuh, berjamur, berair, atau tumbuh di dalam kemasan. Direktur iPasar periode 2008-2012 itu juga menyarankan perhitungan lahan berbasis data koordinat melalui sistem pemosisi global (GPS-Global Positioning System).

Ia menilik pertanian di Ohio, Amerika yang kondisi lahan pertanamannya bisa dipantau kapanpun melalui internet. Dengan demikian, data Calon Petani Calon Lokasi (CPCL) juga akan lebih valid. Selain subsidi di hulu, pemerintah se – baiknya juga menyediakan subsidi di hilir berupa penyediaan fasilitas pengering (dryer) skala besar. Dryer ini dikelola peme – rintah pusat atau daerah yang berada da – lam suatu klaster pengembangan jagung. Menurut Dean, pelibatan pemerintah dae rah pada klaster jagung akan memperkuat kepastian data produksi layaknya keberadaan Koperasi Unit Desa (KUD) sebagai sumber perhitungan data produksi padi zaman orde baru.

Butuh Impor

Pegiat agribisnis jagung ini memandang, Indonesia masih membutuhkan impor jagung. “Karena begitu impor ja – gung dibatasi, impor gandum naik. Ke – naik an impor gandum sama dengan im – por jagung tahun-tahun sebelumnya. Jadi, sudah seperti substitusi. Katanya penghematan devisa tapi di gandum malah nirpenghematan,” ungkapnya. Sebagai petani, ia tidak takut dengan keberadaan jagung impor karena jagung impor lebih banyak sebagai buffer stock (stok penyangga) untuk pabrik pakan. Di samping itu, pabrik pakan selalu membutuhkan jagung lokal karena lebih segar dan nutrisinya lebih tinggi daripada jagung impor.

Ia menegaskan, pemerintah tidak perlu malu mengimpor jagung. “Bukan berarti impor jagung atau impor beras itu kita payah, nggak!,” tegas pria kelahiran Ja – karta itu. Kalau pun harus impor, pilihan waktunya harus pas. Jangan sampai ja – gung impor masuk saat panen raya. Dean juga mengkritisi pemerintah yang terlalu mengangkat berita ekspor jagung ke Filipina, Malaysia, dan Timor Leste. “Itu sudah lama kita lakukan karena ongkos ke Jawa mahal,” bebernya. Ongkos kirim (ongkir) jagung dari Gorontalo ke Filipina sekitar Rp250-Rp300/kg. Sedangkan, ongkir dari Gorontalo ke Jawa Rp700/kg dengan waktu tempuh seminggu.

Jika pengiriman dilanjutkan ke Jakarta, ongkir bertambah Rp1.000/kg. “Kalau ekspor itu Rp300/kg sudah bersih pakai kapal,” timpalnya. Pria yang menggarap lahan jagung di Lombok Timur, NTB ini meminta pemerintah untuk terbuka de ngan kondisi yang ada. “Jangan meng-counter impor yang 171.660 ton de ngan ekspor. Sedang – kan, harga di tingkat petani anjlok. Kenapa nggak ngurusin yang anjloknya lebih masif, dibanding ngurusin ekspor yang B2B (Business to Business),” tegurnya.