Categories
Blogging

Geliat Pembenih Muda di Dieng

Kawasan dataran tinggi Dieng yang terhampar di dua kabupaten, yaitu Wonosobo dan Banjarnegara kon – dang sebagai destinasi wisata pegu – nungan. Selain itu, daerah berketinggian 1.500 – 2.000 m di atas permukaan laut (dpl) ini juga salah sentra produksi utama kentang di Jawa Tengah. Untuk satu musim tanam kentang, para pe tani di sana membutuhkan sekitar 6.000 ton benih. Sayang, 60%-nya harus dida – tangkan dari luar daerah. Anggap saja har – ga benih Rp20 ribu per kg, maka ada potensi Rp72 miliar yang terbang dari Dieng.

Ingin Penuhi Kebutuhan Dieng

Kondisi tersebut memantik keprihatinan dan kepedulian Adhi Nurcholis, M.Sc. La – jang alumnus Fakultas Biologi, Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo ini ber – tekad mewujudkan Dieng mampu mencukupi kebutuhan benih kentangnya sen – diri alias swasembada. Tahun ini pemuda 26 tahun yang menyelesaikan pendidikan pascasarjana UGM dengan minat kultur jaringan tersebut membeli rumah seder – hana yang berdempetan dengan lahan kentang di Kejajar, Wonosobo. Di dalam rumah tersebut Adhi mem – bangun laboratorium mini untuk meng – eksplorasi varietas-varietas kentang lokal yang hidup di dataran tinggi Dieng. Ia sadar, perjalanan untuk meraih impiannya masih begitu panjang dan akan banyak menguras dana, tenaga, serta pikiran. Apa lagi riset-risetnya harus dibiayai se – cara mandiri. Namun, di tengah semua ke terbatasan sarana dan prasarana itu perjalanan tetap harus dimulai. “Mum – pung saya masih muda,” tekadnya saat AGRINA menyambangi laboratorium produksinya di Gataksari RT 03/02 Desa Serang, Kec, Kejajar, Wonosobo. Adhi memilih tinggal di tengah petani dan mengadu nasib bersama mereka. Enggan melirik profesi menjadi pegawai negeri sipil atau pekerjaan kantoran lain – nya sebagaimana disarankan orang tua – nya. “Tapi orang tua saya sudah rela dan membantu saya,” tegasnya.

Kualitas Benih Berisiko

Keprihatinan lelaki asli Kabupaten Pur – worejo, Jawa Tengah, terhadap kondisi perbenihan kentang di Wonosobo ini tercetus sejak 2013 ketika ia melakukan penelitian untuk penyelesaian studinya. Ia melihat miliaran rupiah yang keluar dari kocek petani untuk membeli benih tetapi budidaya mereka belum terjamin aman. Kelemahan benih dari luar daerah, me – nurut dia, adalah kekurangsesuaiannya dengan habitat tanam yang dapat me – nye babkan produksi tidak optimal dan rawan serangan penyakit. Sementara 40% kebutuhan benih dipenuhi petani sen diri melalui sortir hasil panen. Pemi – lihan benih seperti ini jelas sangat riskan. Sebab, semua penyakit induk akan ter – akumulasi di umbi dan segera bermunculan ketika benih ditanam. Dampaknya ten tu saja biaya pestisida akan naik, se – mentara produktivitas akan terus me – nurun. “Kami sebenarnya sangat mengharap – kan peran pemerintah dalam member – dayakan petani dalam hal perbenihan. Petani membutuhkan pengetahuan ten – tang perbenihan, kemudian legalitas dan lisensi penangkarannya. Kami membu – tuhkan pembinaan dan pendampingan Sekitar 60% kebutuhan benih kentang di kawasan Dieng, Jawa Tengah, dipasok dari luar daerah. Ini memicu kreativitas anak muda untuk memproduksi benih sendiri. DENGAN BENIH yang cukup dan berkualitas baik, biaya aplikasi pestisida berkurang ISMAN AGRINA LO 277.qxp_Layout 1 7/13/17 9:56 PM Page 40 277 – Juli 2017 Agrina 41 un tuk dapat menjadi penangkar,” ulas Adhi.