EVI SAVITRI, Bawang Olahan Mudah Dibuat

EVI SAVITRI, Bawang Olahan Mudah Dibuat

Menurut Risfaheri, produk olahan bawang menawarkan beberapa keuntungan, antara lain mengurangi volume pema kaian, praktis dalam penggunaan, serta memiliki masa simpan panjang. Di sam ping itu, produk olahan bawang merah juga mengandung mineral, antioksidan, dan multivitamin alami yang memberikan nilai tambah lebih tinggi serta berfungsi sebagai pangan fungsional. “Meskipun produk olahan tapi masih memiliki warna, aroma, dan rasa bawang me rah segar,” jelas Profesor Riset Teknologi Pascapanen ini.

Pasta bawang merah merupakan produk antara (intermediate) yang bisa langsung digunakan sebagai bumbu atau dicampur dengan bahan bumbu lain. Produk ini memiliki masa simpan satu tahun pada suhu dingin berkisar 5o -7o C. Evi menguraikan, rendemen pasta bawang merah sekitar 80%. Dengan harga bawang Rp20 ribu/kg, harga pokok penjualan pasta ini sebesar Rp40 ribu/kg. Selanjutnya, bawang merah iris kering menghasilkan rendemen sekitar 12% dan berdaya simpan satu tahun pada suhu ruang. Olahan berbentuk irisan ini bisa dibandrol seharga Rp80 ribu/kg. Syakir menyebut, penggunaan bawang merah iris kering menjadi bawang goreng cukup mudah. “Dicelupkan kurang dari 10 detik pada minyak panas.

Hasilnya sangat renyah. Warna dan aroma mendekati bawang merah segar. Jadi ibu rumah tangga tak perlu repot cari bawang segar di pasar untuk bikin bawang goreng,” ungkapnya. Terakhir, bawang dalam larutan garam. Evi menjelaskan, produk ini berupa bawang utuh dan juga irisan yang sudah dikupas kemudian diawetkan dengan media larutan garam. Daya tahannya sekitar dua bulan jika disimpan pada suhu ruang dan mencapai satu tahun pada suhu dingin.

Mudah Dibuat

Evi mengatakan, pembuatan ketiga produk diversifikasi bawang merah tidaklah sulit. “Untuk skala rumah tangga, ibu-ibu sebenarnya bisa buat,” ulas wanita keturunan Bugis ini. Bawang merah iris kering dibuat dengan cara mengiris bawang merah yang sudah di kupas kemudian dikeringkan meng gunakan oven atau dijemur di bawah sinar matahari. Ia menyebutkan, kadar air bawang iris kering pasti lebih rendah ketika disimpan. Untuk memproduksi pasta bawang, urai nya, bawang dipasteurisasi ke dalam retort (labu distilasi) setelah dikupas dan dihancurkan.

Pengemasan melalui proses retort bertujuan untuk pengawetan. “Tekan annya dijaga dengan retort. Pemberian tekanan dapat membuat bakteri patogen mati,” terang Peneliti Muda Teknologi Pascapaen itu. Pada skala rumah tangga, pembuatan pasta bawang perlu sedikit modifikasi. Sebelum dihaluskan dengan blender, bawang dikukus lebih dulu agar awet. Selanjutnya, kemas dalam kantung plastik, divakum agar kedap udara, lalu simpan dalam freezer. Sedangkan, bawang dalam larutan garam bisa berupa bawang merah utuh kupas atau irisan. “Garam sebagai larutan pengawetnya, ibu rumah tangga bisa bikin karena prinsipnya seperti membuat asinan. Jadi, campur garam dan sedikit cuka. Bikin kondisinya asam juga asin karena itu merupakan pengawet alami,” urai lulusan IPB tersebut.

Evi menilai, penggunaan bawang olahan sangat praktis karena bisa langsung diaplikasi pada produk pangan. Bawang utuh dalam larutan garam bisa digunakan untuk acar, diiris, atau diulek sebagai bumbu tumis sayuran dan ikan bakar. Bawang iris untuk bawang goreng atau menumis sayuran. Sedangkan pasta bawang digunakan sebagai bumbu masak tanpa harus repot mengulek atau menggiling terlebih dahulu. Tertarik mencoba?